Menakar Kedaulatan Ekonomi Indonesia: Upaya Mandiri atau Dihambat Sistem Global?



Menakar Kedaulatan Ekonomi Indonesia: Upaya Mandiri atau Dihambat Sistem Global?

Dalam beberapa bulan terakhir, pasar keuangan Indonesia mengalami tekanan besar. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok, sementara rupiah terus melemah terhadap dolar AS. Apakah ini murni akibat faktor ekonomi global, atau ada upaya sistematis untuk menghambat langkah Indonesia menuju kemandirian ekonomi?

Faktanya, setiap negara yang mencoba melepaskan diri dari hegemoni sistem keuangan global hampir selalu menghadapi tekanan. Apakah Indonesia kini menjadi target tekanan serupa?

1. Arah Kebijakan Indonesia yang Mengganggu Status Quo Global

Indonesia sedang menjalankan kebijakan yang dapat mengubah lanskap ekonomi domestik secara drastis, di antaranya:

Hilirisasi Sumber Daya Alam: Pemerintah menutup ekspor mentah komoditas strategis seperti nikel dan bauksit. Ini mengurangi ketergantungan pada sistem ekspor lama yang menguntungkan negara maju dan memaksa mereka beradaptasi dengan kebijakan baru Indonesia.

De-dolarisasi: Bank Indonesia mendorong penggunaan mata uang lokal dalam perdagangan internasional melalui skema Local Currency Settlement (LCS). Ini berpotensi mengurangi ketergantungan pada dolar AS dalam jangka panjang.

Penguatan Ekonomi Digital: Indonesia berencana menerbitkan rupiah digital dan mengembangkan sistem pembayaran yang lebih mandiri dari infrastruktur keuangan global yang dikendalikan oleh Barat.


Langkah-langkah ini tentu tidak menguntungkan bagi pihak yang selama ini menikmati dominasi ekonomi atas Indonesia. Negara-negara besar, terutama yang mengontrol sistem keuangan global, bisa saja melihat ini sebagai ancaman terhadap kepentingan mereka.

2. Apakah Pelemahan IHSG dan Rupiah Bagian dari Tekanan Sistematis?

Melihat pola yang terjadi di negara lain yang mencoba keluar dari sistem keuangan global, ada beberapa indikator yang patut dicermati dalam kasus Indonesia:

a) Kapital Asing yang Kabur Secara Bersamaan

Investor asing memiliki dominasi besar di pasar modal Indonesia. Dalam beberapa bulan terakhir, banyak dana asing yang keluar secara besar-besaran, menyebabkan IHSG anjlok dan rupiah melemah. Fenomena ini sering terjadi ketika negara-negara maju ingin memberikan "peringatan" kepada negara berkembang yang mulai mengambil kebijakan lebih mandiri.

Pola yang Mirip dengan Krisis 1997-1998: Saat itu, spekulasi besar-besaran terhadap rupiah memicu krisis ekonomi, setelah sebelumnya Indonesia berupaya membatasi ketergantungan terhadap utang luar negeri.

Tekanan Terhadap Negara Lain: Venezuela dan Iran mengalami devaluasi mata uang besar-besaran setelah mencoba mengambil kendali penuh atas sumber daya mereka sendiri.


Jika pola ini berulang, maka pelemahan IHSG dan rupiah saat ini bukan hanya karena faktor ekonomi semata, melainkan ada agenda yang lebih besar untuk membuat Indonesia kembali bergantung pada sistem keuangan global.

b) Spekulasi di Pasar Valuta Asing

Nilai tukar rupiah sangat rentan terhadap manipulasi di pasar valas. Jika ada pemain besar yang sengaja melepas rupiah dalam jumlah besar, hal ini bisa menciptakan kepanikan di pasar dan memicu depresiasi lebih lanjut.

Contoh Plaza Accord 1985: Jepang "dipaksa" menerima apresiasi yen secara tiba-tiba, yang menyebabkan ekonominya kehilangan daya saing global.

Serangan terhadap Lira Turki: Saat Turki mencoba kebijakan ekonomi independen, nilai mata uangnya dihantam spekulasi besar hingga turun drastis.


Indonesia bukan tidak mungkin menjadi target serangan spekulatif serupa jika dianggap terlalu berani dalam mengambil kebijakan yang mengancam kepentingan pemain global.

3. Solusi Strategis untuk Menghadapi Tekanan Eksternal

Jika tekanan ini benar adanya, maka Indonesia perlu melakukan langkah konkret untuk mempertahankan stabilitas ekonominya:

a) Diversifikasi Pasar Modal

Pemerintah harus memperkuat peran investor domestik agar tidak terlalu bergantung pada dana asing yang bisa masuk dan keluar dengan mudah. Langkah ini dapat dilakukan dengan:

Mendorong BUMN dan perusahaan lokal untuk lebih aktif berinvestasi di pasar modal.

Membuat skema investasi ritel yang lebih menarik bagi masyarakat domestik.


b) Penguatan Cadangan Devisa dan Pemangkasan Ketergantungan Dolar

Bank Indonesia perlu meningkatkan cadangan devisa dengan langkah-langkah berikut:

Memperkuat ekspor industri manufaktur dan teknologi, bukan hanya komoditas mentah.

Mengurangi utang luar negeri dalam mata uang asing dan lebih banyak menggunakan mata uang lokal dalam perdagangan internasional.


c) Membangun Sistem Keuangan Alternatif

Ketergantungan pada sistem pembayaran global berbasis dolar perlu dikurangi dengan:

Mempercepat implementasi rupiah digital sebagai alat transaksi internasional.

Mendorong penggunaan sistem blockchain dan fintech dalam transaksi lintas negara.


d) Integrasi Ekonomi Regional dan Global yang Seimbang

Alih-alih bergantung pada negara-negara barat, Indonesia harus memperkuat kerja sama dengan:

Negara-negara ASEAN dan BRICS yang memiliki visi kemandirian ekonomi.

Mitra dagang non-tradisional yang lebih fleksibel dalam menggunakan mata uang lokal.


Kesimpulan: Indonesia Harus Waspada dan Bertindak Cepat

Pelemahan IHSG dan rupiah bisa jadi lebih dari sekadar siklus ekonomi biasa. Jika melihat pola global, tekanan ini bisa menjadi bagian dari upaya untuk menghambat langkah Indonesia menuju kemandirian ekonomi.

Untuk mengatasi tantangan ini, Indonesia harus segera mengambil langkah strategis, mulai dari diversifikasi pasar modal, memperkuat cadangan devisa, hingga membangun sistem keuangan yang lebih mandiri.

Jika tidak, Indonesia akan terus berada dalam siklus ketergantungan terhadap sistem keuangan global yang dikendalikan oleh segelintir pemain besar. Pertanyaannya: apakah kita siap untuk benar-benar berdaulat, atau tetap mengikuti permainan lama yang merugikan?


Baca juga

Posting Komentar